Thursday, 19 April 2012

Asuhan Keperawatan Osteoporosis ( Askep Osteoporosis )


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem muskolokeletal yang memerlukan perhatian khusus, terutama dinegara berkembang, termasuk indonesia. Pada tahun 1990, ternyata jumlah penduduk yang berusia 55 tahun atau lebih mencapai 9,2%, meningkat 50% dibandingkan survey tahun 1971. Dengan demikian, kasus osteoporosis dengan berbagai akibatnya, terutama fraktur diperkirakan juga akan meningkat ( Sodoyo, 2009 )
Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa tulang dicapai pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah 1,4% tahun. Penelitian yang dilakukan di klinik Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis yang meliputi umur, lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor proteksinya adalah kadar estrogen yang tinggi, riwayat berat badan lebih/obesitas dan latihan yang teratur ( Sudoyo, 2009 ).

B.     Rumusan Masalah
Agar penulisan makalah tidak menyimpang dari tujuan semula, maka penulis merumuskan masalah pada:
1.      Apa yang dimaksud dengan Osteoporosis?
2.      Apa etiologi dari Osteoporosis?
3.      Bagaimana manifestasi klinis Osteoporosis?
4.      Bagaimana penatalaksanaan Osteoporosis secara medis dan keperawatan?
5.      Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis ?


C.    Tujuan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai proses pembelajaran mahasiswa dalam memahami Osteoporosis, dan mahasiswa mampu memahami defenisi, etiologi, manifestasi klinis, klassifikasi, penatalaksanaan medis dan keperawatan serta asuhan keperawatan dari Osteoporosis.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Defenisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001,  National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :
a.       Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
b.      Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang

B.     Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:
1.      Determinan Massa Tulang
a.       Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
b.      Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik.

c.       Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.

2.      Determinan penurunan Massa Tulang
a.       Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
b.      Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi  hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya   usia.
c.       Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d.      Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negative.


e.       Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f.       Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g.      Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu  dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .
Beberapa penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:
1.      Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurngnya hormon estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus  berlangsung 3-4 tahun setelah meopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.

2.      Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblast). Senilis berati bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3.      Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat, anti kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dapat memperburuk keadaan ini.
4.      Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

C.    Manifestasi Klinis
Osteoporosis dimanifestasikan dengan :
1.      Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
2.      Nyeri timbul mendadak.
3.      Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang.
4.      Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
5.      Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas.
6.      Deformitas vertebra thorakalis à Penurunan tinggi badan

D.    Patofisiologi
Kartilago hialin adalah jaringan elastis yang 95% terdiri dari air dan matrik ekstra selular, 5 % sel konrosit. Fungsinya sebagai penyangga juga pelumas sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat pergerakan sendi.
Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut. Setelah terjadi kerusakan tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah.

E.     Pemeriksaan Diagnostik
a.       Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
b.      Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD berada diatas nilai -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:

1.      Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius dan kalkaneus.
2.      Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan vetrebrata.

3.      Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang secara volimetrik.
c.       Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d.      Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
e.       Biopsi tulang dan Histomorfometri
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan metabolisme tulang.

f.       Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
g.      CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
h.      Pemeriksaan Laboratorium
1.      Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2.      Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
3.      Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
4.      Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

 
F.     Web Of Caution







1.      Diagnosa keperawatan
a.       Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang.
b.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
c.       Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh.
d.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

2.      Intervensi Keperawatan
a.       Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang.
Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
1.      Pantau tingkat nyeri pada punggung, nyeri terlokalisasi atau menyebar pada abdomen atau pinggang.
2.      Ajarkan pada klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya.
3.      Kaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri.
4.      Rencanakan pada klien tentang periode istirahat adekuat dengan berbaring dalam posisi telentang selama kurang lebih 15 menit
1.      tulang dalam peningkatan jumlah trabekular, pembatasan gerak spinal.

2.      Alternatif lain untuk mengatasi nyeri, pengaturan posisi, kompres hangat dan sebagainya.
3.      Keyakinan klien tidak dapat menoleransi obat yang adekuat atau tidak adekuat untuk mengatasi nyerinya.
4.      Kelelahan dan keletihan dapat menurunkan minat untuk aktivitas sehari-hari.

b.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
1.      Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada.

2.      Rencanakan tentang pemberian program latihan:
·         Bantu klien jika diperlukan latihan
·         Ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari hari yang dapat dikerjakan
·         Ajarkan pentingnya latihan.
3.      Bantu kebutuhan untuk beradaptasi dan melakukan aktivitas hidup sehari hari, rencana okupasi .
4.      Peningkatan latihan fisik secara adekuat:
·         dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang seperti berjalan.

·         instruksikan klien untuk latihan selama kurang lebih 30menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit
·         hindari latihan fleksi, membungkuk tiba– tiba,dan penangkatan beban berat

1.      Dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan kemapuannya.
2.      Latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah







3.      Aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri
4.      Dengan latihan fisik:

·         Masa otot lebih besar sehingga memberikan perlindungan pada osteoporosis

·         Program latihan merangsang pembentukan tulang
·         Gerakan menimbulkan kompresi vertical dan fraktur vertebra.


c.       Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh.
Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
1.      Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya:
·         Tempatkan klien pada tempat tidur rendah.
·         Amati lantai yang membahayakan klien.
·         Berikan penerangan yang cukup
·         Tempatkan klien pada ruangan yang tertutup dan mudah untuk diobservasi.
·         Ajarkan klien tentang pentingnya menggunakan alat pengaman di ruangan.
2.      Berikan dukungan ambulasi sesuai dengan kebutuhan:
·         Kaji kebutuhan untuk berjalan.
·         Konsultasi dengan ahli therapist.
·         Ajarkan klien untuk meminta bantuan bila diperlukan.
·         Ajarkan klien untuk berjalan dan keluar ruangan.
3.      Bantu klien untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari secara hati-hati.
4.      Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan, tidak naik tanggga, dan mengangkat beban berat.
5.      Ajarkan pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis:
·         Rujuk klien pada ahli gizi
·         Ajarkan diet yang mengandung banyak kalsium
·         Ajarkan klien untuk mengurangi atau berhenti menggunakan rokok atau kopi

6.      Ajarkan tentang efek rokok terhadap pemulihan tulang
7.      Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan

1.      Menciptakan lingkungan yang aman dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.










2.      Ambulasi yang dilakukan tergesa-gesa dapat menyebabkan mudah jatuh.






3.      Penarikan yang terlalu keras akan menyebabkan terjadinya fraktur.
4.      Pergerakan yang cepat akan lebih memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra pada klien osteoporosis.
5.      Diet kalsium dibutuhkan untuk mempertahankan kalsium serum, mencegah bertambahnya kehilangan tulang. Kelebihan kafein akan meningkatkan kalsium dalam urine. Alcohol akan meningkatkan asidosis yang meningkatkan resorpsi tulang
6.      Rokok dapat meningkatkan terjadinya asidosis.
7.      Obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, megantuk, dan lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh.


d.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
1.      Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang

2.      Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis
3.      Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat

1.      Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
2.      Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya
3.      Suplemen kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung dan distensi abdomen maka klien sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal


G.    Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1.      Penatalaksanaan Medis
A.    Pengobatan
1.      Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroid anabolik
2.      Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.
B.     Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:
1.      Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
2.      Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:
a.       Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
b.      Latihan teratur setiap hari
c.       Hindari :
1.      Makanan tinggi protein
2.      Minum alkohol
3.      Merokok
4.      Minum kopi
5.      Minum antasida yang mengandung aluminium

2.      Penatalaksanaan keperawatan
a.       Membantu klien mengatasi nyeri.
b.      Membantu klien dalam mobilitas.
c.       Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.
d.      Memfasilitasikan klien dalam beraktivitas agar tidak terjadi cedera.


BAB III
KASUS
A.    Uraian Kasus
Ny. S umur 58 tahun datang ke RSUD AA Pekanbaru dengan keluhan ngilu pada sendi yang seringdirasakannya sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny. S tidak memperdulikannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter Ny. S dianjurkan untuk tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent  menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD T-score -3. Klien mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah tua. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. Pola aktifitas diketahui klien banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg (BB sebelumnya 78 kg).

B.     Pengkajian
1.      Data demografi
Nama                : Ny. S
Umur                : 58 Tahun
Jenis kelamin    : Perempuan
Pekerjaan          : IRT
2.      Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. S umur 58 tahun datang dengan keluhan ngilu pada sendi yang seringdirasakannya sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny. S tidak memperdulikannya.
3.      Pemeriksaan Fisik
a.       Inspeksi
Klien terlihat bungkuk (kifosis), penurunan berat badan, perubahan gaya berjalan.
b.      Palpasi
Klien merasakan nyeri saat dilakukan palpasi pada area punggung.
4.      Riwayat Psikososial
Klien cemas untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berat.
5.      Hasil pemeriksaan laboratorium
BMD T-score -3

C.    Analisa Data
Data Subjektif
Data Objektif
Masalah keperawatan
1.Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang
2.Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan
3.Klien mengatakan tidak suka olahraga karena tidak sempat.
4.Klien mengatakan terasa sakit pada sendi ketika berjalan
5.Klien mengatakan aktivitas sehari-hari terhambat
6.Skala nyeri 7
1.   Klien mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu.
2.   Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil.
3.   Wajah klien terlihat meringis.
4.   Sering terlihat memegang area yang sakit

Nyeri
1.Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang.
2.Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat.
3.Klien mengatakan terasa sakit pada sendi ketika berjalan.
4.Klien mengatakan aktivitas sehari-hari terhambat

1.   Ny. S umur 58 tahun
2.   Hasil rongent  menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis.
3.   Hasil BMD T-score -3.
4.   Hasil darah lengkap dalam.
5.   Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg.
6.   Kifosis
Mobilitas fisik
1.Klien mengatakan merasakan ngilu saat beraktivitas yang berat.

1.   Klien terlihat sangat berhati-hati berjalan.
2.   Klien terlihat kifosis ( bungkuk)
3.   Hasil rongent  menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis
4.   Hasil BMD T-score -3.

Resiko cedera
1.Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang
2.Klien mengatakan dirinya tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut.
3.Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah tua.
4.Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat.

1.   Ny. S umur 58 tahun
2.   Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS.
3.   Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil.
4.   Pendidikan Terakhir Klien SMA
Kurang pengetahuan



D.    WOC ( Web Of Caution )

E.     Intervensi Keperawatan                   

Diagnosa Keperawatan
Etiologi
Intervensi Keperawatan
Rasionalisasi
Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang

Penurunan massa tulang / osteoporosis
 


Fraktur vertebra
 


Deformitas
Vertebra
 


Teregangnya ligamentum dan otot/ spasme otot
 

Nyeri
4.      Pantau tingkat nyeri pada punggung, nyeri terlokalisasi atau menyebar pada abdomen atau pinggang.
5.      Ajarkan pada klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya.
6.      Kaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri.
5.      Rencanakan pada klien tentang periode istirahat adekuat dengan berbaring dalam posisi telentang selama kurang lebih 15 menit

5.      tulang dalam peningkatan jumlah trabekular, pembatasan gerak spinal.

6.      Alternatif lain untuk mengatasi nyeri, pengaturan posisi, kompres hangat dan sebagainya.
7.      Keyakinan klien tidak dapat menoleransi obat yang adekuat atau tidak adekuat untuk mengatasi nyerinya.

8.      Kelelahan dan keletihan dapat menurunkan minat untuk aktivitas sehari-hari.

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
Penurunan massa tulang / osteoporosis
 


Fraktur vertebra
 


Deformitas
Vertebra
 


Bungkuk
 


Hambatan mobilitas fisik
2.      Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada.

3.      Rencanakan tentang pemberian program latihan:
·         Bantu klien jika diperlukan latihan
·         Ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari hari yang dapat dikerjakan
·         Ajarkan pentingnya latihan.
5.      Bantu kebutuhan untuk beradaptasi dan melakukan aktivitas hidup sehari hari, rencana okupasi .
6.      Peningkatan latihan fisik secara adekuat:
·         dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang seperti berjalan

·         instruksikan klien untuk latihan selama kurang lebih 30menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit
·         hindari latihan fleksi, membungkuk tiba– tiba,dan penangkatan beban berat

1.      Dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan kemapuannya.
2.      Latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah





·         Aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri
·         Dengan latihan fisik:

·         Masa otot lebih besar sehingga memberikan perlindungan pada osteoporosis
·         Program latihan merangsang pembentukan tulang


·         Gerakan menimbulkan kompresi vertical dan fraktur vertebra.

Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh.
Penurunan massa tulang/osteoporosis

Resiko cedera
2.      Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya:
·         Tempatkan klien pada tempat tidur rendah.
·         Amati lantai yang membahayakan klien.
·         Berikan penerangan yang cukup
·         Tempatkan klien pada ruangan yang tertutup dan mudah untuk diobservasi.
·         Ajarkan klien tentang pentingnya menggunakan alat pengaman di ruangan.
3.      Berikan dukungan ambulasi sesuai dengan kebutuhan:
·         Kaji kebutuhan untuk berjalan.
·         Konsultasi dengan ahli therapist.
·         Ajarkan klien untuk meminta bantuan bila diperlukan.
·         Ajarkan klien untuk berjalan dan keluar ruangan.
5.      Bantu klien untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari secara hati-hati.
6.      Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan, tidak naik tanggga, dan mengangkat beban berat.

8.      Ajarkan pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis:
·         Rujuk klien pada ahli gizi
·         Ajarkan diet yang mengandung banyak kalsium
·         Ajarkan klien untuk mengurangi atau berhenti menggunakan rokok atau kopi
9.      Ajarkan tentang efek rokok terhadap pemulihan tulang
10.  Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan

2.      Menciptakan lingkungan yang aman dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.










3.      Ambulasi yang dilakukan tergesa-gesa dapat menyebabkan mudah jatuh.






6.      Penarikan yang terlalu keras akan menyebabkan terjadinya fraktur.
7.      Pergerakan yang cepat akan lebih memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra pada klien osteoporosis.
8.      Diet kalsium dibutuhkan untuk mempertahankan kalsium serum, mencegah bertambahnya kehilangan tulang. Kelebihan kafein akan meningkatkan kalsium dalam urine. Alcohol akan meningkatkan asidosis yang meningkatkan resorpsi tulang

8.      Rokok dapat meningkatkan terjadinya asidosis.
9.      Obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, megantuk, dan lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh.

Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah
Postmenopause, usia lanjut
 


Penurunan hormon inhibitor osteoclast (estrogen, kalsitonin)
 


Penigkatan osteoclast
 

Penurunan massa tulang/osteoporosis

Kurang pengetahuan
4.      Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang

4.      Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis
5.      Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat

2.      Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
5.      Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya
6.      Suplemen kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung dan distensi abdomen maka klien sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal


F.     Healt Education
1.      Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur untuk memelihara kekuatan, kelenturan, dan koordinasi sistem neuromuskular serta kebugaran, sehingga dapat mencegah risiko terjatuh. Berbagai latihan yang dapat dilakukan meliputi berjalan 30 – 60 menit/hari.
2.      Anjurkan pasien untuk menjaga asupan kalsium 1000 – 1500 mg/hari, baik melalui makanan sehari-hari maupun suplementasi.
3.      Hindari mengangkat barang-barang yang berat pada pasien yang sudah pasti osteoporosis.
4.      Hindari berbagai hal yang dapat menyebabkan pasien terjatuh, misalnya lantai yang licin, obat-obatan sedatif, dan obat anti hipertensi yang dapat menyebabkan hipotensi orthostatik.
5.      Hindari defisiensi vitamin D, terutama pada pasien yang kurang terpajan sinar matahari atau pasien dengan fotosensitifitas, misalnya SLE. Jika diduga ada defisiensi vitamin D, maka kadar 25(OH)D serum harus diperiksa. Bila 25(OH)D serum menurun, maka suplementasi vitamin D 400 IU/hari atau 800 IU/hari pada orangtua harus diberikan. Pada pasien dengan gagal ginjal, suplementasi 1,25(OH)2D harus dipertimbangkan.
6.      Hindari peningkatan ekskresi kalsium lewat ginjal dengan membatasi asupan nutrisi sampai 3gram/hari untuk meningkatkan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal. Bila ekskresi kalsium urin > 300mg/hari, berikan diuretik tiazid dosis rendah (HCT 25 mg/hari).
7.      Pada pasien yang memerlukan glukokortikoid dosis tinggi dan jangka panjang, usahakan pemberian glukokortikoid pada dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin.
8.      Pada pasien arthritis reumatiod dan arthritis inflamasi lainnya, sangat penting mengatasi aktivitas penyakitnya, karena hal ini akan mengurangi nyeri dan penurunan densitas massa tulang akibat arthritis inflamasi yang aktif.
9.      Informasikan pemberian terapi estrogen. Pemberian estrogen oral, transdermal atau implan kesemuanya dapat meningkatkan densitas tulang secara bermakna dan secara epidemiologik dibuktikan bahwa terapi ini menurunkan angka kejadian patah tulang oleh karena osteoporosis pada panggul dan tulang punggung.

                                                                                                                            
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :
1.      Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
2.   Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang

B.     Saran
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
1.         Pada pengkajian perawat perlu melakukan pengkajian dengan teliti melihat kondisi klien serta senantiasa mengembangkan teknik terapeutik dalam berkomunikasi dengan klien.
2.         Agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap profesional dalam menetapkan diagnosa keperawatan.



                                      DAFTAR PUSTAKA


Tandra, H, 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Osteoporosis Mengenal, Mengatasi dan Mencegah Tulang Keropos. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Lukman & Nurna Ningsih.2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskolokeletal. Jakarta : Salemba Medika.
Sudoyo, Aru dkk. 2009. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 Edisi 5. Jakarta : Internal Publishing.
Lippincott dkk. 2011. Nursing Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta : PT Indeks.
Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
Suryati, A, Nuraini, S. 2006. Faktor Spesifik Penyebab Penyakit Osteoporosis Pada Sekelompok Osteoporosis Di RSIJ, 2005. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol.2, No.2, Juli 2006:107-126.
Hinchliff, S.1999. Kamus Keperawatan. Jakarta : EGC


GLOSARIUM

1.      Osteoporosis : penipisan tulang yang abnormal, mungkin idiopatik atau sekunder terhadap penyakit lain.
2.      Osteopenia : pengurangan masa tulang akibat penurunan kecepatan sintesis osteoidsampai tingkat insufisienuntuk mengkompensasikan lisis tulaang.
3.      Osteoblast : sel yang muncul dari fibroblast dan ketika dewasa berhubungan dengan produksi tulang.
4.      Osteoclast : sel multinukleus besar yang berhubungan dengan absorpsi dan penghilangan tulang.
5.      Tulang Vertebra : tulang belakang
6.      Menopause : berhentinya menstruasi
7.      Genetik : berhubungan dengan reproduksi atau kelahiran , diwariskan
8.      Fraktur : pecahnya atau rupture pada tulang
9.      Imun : bersifat resisten terhadap penyakit karena pembentukan antibody humoral atau perkembangan imunitas selular
10.  Urine : cairan bewarna kekuningan yang diekskresikan dari dalam ginjal dengan kecepatan sekitar 1500 ml/jam pada orang dewasa
11.  Estrogen : istilah generic untuk senyawa yang menghasilkan estrus, hormone seks wanita
12.  Deformitas vertebra thorakalis : penurunan tinggi badan


No comments:

Post a Comment