Jumat, 20 April 2012

Laporan Pendahuluan Vertigo


I.                   Latar Belakang


Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengami vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani “vertere” yang artinya memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Kasus vertigo di Amerika  adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih banyak daripada pria. Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu diatas 50 tahun.
Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari kejadian atau trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari kejadian atau trauma tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini sebaiknya harus segera ditangani, karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu system lain yang ada di tubuh dan juga sangat merugikan klien karena rasa sakit atau pusing yang begitu hebat. Terkadang klien dengan vertigo ini sulit untuk membuka mata karena rasa pusing seperti terputar-putar. Ini disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.
Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya dirasa sangat penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta pemberian asuhan keperawatan  yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini dapat berkurang dan masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa mengantisipati akan hal tersebut.
II.                Tujuan


Tujuan dari penyusunan laporan pendahuluan tentang vertigo ini adalah agar mahasiswa mampu secara kognitif, afektif serta motorik dalam menyusun asuhan keperawatan  pada klien vertigo. Dengan demikian, mahasiswa bisa menerapkan asuhan keperawaan yang sudah dibuat secara komprehensif sehingga dapat membantu proses penyembuhan klien secara tepat dan cepat.


III.             Tinjauan Pustaka


A.    Definisi
Vertigo adalah  sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing (http://www.kalbefarma.com). Burton 1990 berpendapat bahwa Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan. Sedangkan menurut yayasan stoke Indonesia, vertigo merupakan satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan vertigo adalah suatu bentuk gangguan keseimbangan yang disertai perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar-putar atau seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual


B.     Etiologi
Menurut (Bruton 1990) vertigo dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1.      Lesi vestibular, seperti:
a.       Fisiologik
b.      Labirinitis
c.       Obat ; misalnya quinine, salisilat.
d.      Otitis media
e.       Motion sickness
2.      Lesi saraf vestibularis
a.       Neuroma akustik
b.      Obat ; misalnya streptomycin
c.       Neuronitis
d.      Vestibular
3.      Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
a.       Infark atau perdarahan pons
b.      Insufisiensi vertebro-basilar
c.       Migraine arteri basilaris
d.      Sklerosi diseminata
e.       Tumor
f.       Siringobulbia
g.      Epilepsy lobus temporal

Sedangkan menurut (http://www.kalbefarma.com) vertigo dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1.      Penyakit Sistem Vestibuler Perifer, seperti:
a.       Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b.      Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma.
c.       Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), vertigo postural.
d.      Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e.       Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
2.      Penyakit SSP, seperti :
a.       Hipoksia Iskemia otak : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
b.      Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses
c.       Trauma kepala/ labirin
d.      Migren
Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telingan dengan otak dan di dalam otaknya sendiri. juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba


C.    Patofisiologi
Vertigo terjadi akibat dari perubahan posisi kepala yang cepat dan tibat-tiba, biasanya akan dirasakan pusing yang sangat berat, yang berlangsung bervariasi di semua orang, bisa lama atau hanya beberapa menit sasja. Penderita kadang merasakan lebih baik jika berbaring diam saja. Vertigo dapat berlangsung selama berhari-hari dan disertai dengan mual muntah. Hasilnya pendertia akan merasa amat sangat panic dan segera melarikan diri untuk berobat, tak jarang pasien seperti ini ditemukan di unit gawat darurat. Vertigo disebabkan oleh pengendapan kalsium di dalam salah satu alat penyeimbangan di dalam telinga, tetapi sebagian besar penyebabnya belum dikethui hingga sekarang. Beberapa dugaan yang dikemukakan oleh para ahli adalah, trauma pada alat keseimbangan, infeksi, sisa pembedangan telinga, degenerative karena usai dan kelainan pembuluh darah. Vertigo berbeda dengan dizziness, suatu pengalaman yang mungkin pernah kita rasakan, yaitu kepala terasa ringan saat akan berdiri. Sedangkan vertigo bisa lebih berat dari itu, misalnya dapat membuat kita sulit untuk melangkah karena rasa berputar yang mempengaruhi keseimbangan tubuh. Adanya penyakit vertigo menandakan adanya gangguan system deteksi seseorang.

D.    Pohon Masalah


E.     Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.Penderita biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah dengan melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :
1.      Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda setelah 5-20 detik.
2.      Disertai
3.       vertigo berat.
4.      Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik).
5.      Pada uji ulangan akan berkurang, terapi juga berguna sebagai cara diagnosis yang tepat.


F.     Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1.      Pemeriksaan fisik
a.       Pemeriksaan mata
b.      Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c.       Pemeriksaan neurologik
d.      Pemeriksaan otologik
e.       Pemeriksaan fisik umum
2.      Pemeriksaan khusus
a.       ENG
b.      Audiometri dan BAEP
c.       Psikiatrik
3.      Pemeriksaan tambahan
a.       Radiologik dan Imaging
b.      EEG, EMG
G.    Penatalaksanaan medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan, terapi fisik / latihan dan olah raga. Dan jika keduat terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah.
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) :
Terdiri dari :
1.    Terapi kausal
2.    Terapi simtomatik
3.    Terapi rehabilitatif


H.    Proses Keperawatan
1.      Pengkajian data keperawatan
a.       Aktivitas / Istirahat
Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala, sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
b.      Sirkulasi
Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak kemerahan
c.       Integritas Ego
Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala, mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
d.      Makanan dan cairan
Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah, anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan
e.       Neurosensoris
Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore, perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus, penurunan refleks tendon dalam, papiledema.
f.       Nyeri/ kenyamanan
Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
g.      Keamanan
Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
h.      Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit
i.        Penyuluhan / pembelajaran
Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.

2.      Analisis Data
No
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
  1.  
Subjektif (S)
  1. Klien mengatakan bahwa nyeri kalau akan dilakukan ganti posisi,
  2. Klien mengatakan sudah terjadi perubahan pola tidur karena nyeri yang dirasakan
Objektif (O)
  1. Pucat pada daerah wajah
  2. Klien tampak gelisah

Gangguan rasa nyaman nyeri
Stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
2.
Subjektif (S)
  1. Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
Objektif (O)
  1. Otot-otot daerah leher juga menegang
  2. Penurunan refleks tendon dalam

Koping individual tak efektif
ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja
Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja
  1.  
Subjektif (S)
  1. klien tidak tahu akan penyakit yang diderita
 Objektif (O)
  1. ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan
keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat

3. Intervensi Kperawatan       
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
DAN TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
1.        
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.

Tujuan: setelah melalui perawatan selama 1 x 24 jam gangguan rasa nyaman nyeri dapat teratasi.
1.Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

2. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.

3. Atur posisi pasien senyaman mungkin



4. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

5. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
1. Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
2. istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3. posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4. relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
5. analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
    2.
Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja

Tujuan: setelah melalui perawatan selama 1 x 24 jam koping individu menjadi lebih adekuat
1. Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum



2. Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya
1. Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2. klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang


3. Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.

4. Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.
3. agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
4. membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
     3.
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat

Tujuan: setelah melalui perawatan selama 1 x 24 jam pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
1. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.


2. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.


3. Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
4. Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan
1. megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya

2. dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas
3. agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
4. dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

REFERENSI



Mansjoer et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Sudoyo Aru.W et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Doengoes Marilynn. E et al. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Jakarta : EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar